Metode Switching pada Cisco Switch?
Telah kita ketahui bahwa ketika menerima frame dari host, switch akan melihat MAC address tujuan di dalam tabel forwarding untuk menentukan ke mana frame harus diteruskan. Meskipun begitu, cara switch menangani proses forwarding dapat bervariasi. Sebagai contoh, salah satu metode yang digunakan oleh switch Cisco akan mem-buffer seluruh frame, dan kemudian menghitung ulang nilai CRC untuk memastikan frame tidak terkorupsi. Metode lainnya akan langsung mulai meneruskan frame begitu ia mulai memasuki switch, tanpa melihat nilai CRC.
Di sini terlihat jelas bahwa satu metode berfokus pada keandalan, sementara yang lain berfokus pada kecepatan.
Secara keseluruhan, perangkat Cisco mendukung tiga metode switching, yaitu store-and-forward, cut-through, dan FragmentFree. Tidak setiap metode didukung oleh semua model, tetapi Anda harus mengenali cara kerja masing-masing metode.
Store-and-forward
Store-and-forward merupakan metode switching default yang digunakan pada switch Cisco seri Catalyst 1900. Pada waktu metode ini digunakan, switch akan menunggu sampai seluruh frame memasuki switch, meng-copy-nya ke buffer, dan kemudian menghitung nilai CRC frame. Jika nilai CRC yang dihitung oleh switch sama dengan nilai yang tersimpan di dalam frame maka frame tersebut berarti tidak terkorupsi, dan kemudian switch akan meneruskannya ke port tujuan. Jika nilai CRC-nya tidak sama, ini berarti frame terkorupsi, dan akan dihentikan oleh switch.
Store-and-forward merupakan metode yang paling andal, tetapi jelas menambah waktu tunda pada proses komunikasi.
Cut-through
Cut-through merupakan metode switching default pada switch Cisco kelas atas, seperti seri Catalyst 5000. Jika store-and-forward meng-copy seluruh frame ke buffer dan menghitung nilai CRC-nya, maka cut-through akan langsung meneruskan frame begitu 6 byte pertama diterima. Seperti yang telah kita ketahui, 6 byte pertama mengandung MAC address tujuan, dan itu merupakan informasi yang cukup bagi switch untuk meneruskan paket.
Dengan semakin andalnya jaringan (dan perangkat jaringan) saat ini, maka masalah frame yang terkorupsi tidaklah sebesar dulu. Hal ini membuat cut-through layak dipertimbangkan.
FragmentFree
Metode switching ketiga adalah FragmentFree. Jika cut-through meneruskan frame setelah 6 byte pertama diterima, maka FragmentFree akan menunggu sampai 64 byte pertama diterima. Ke-64 byte tersebut dikenal juga dengan “collision window”, karena frame yang terkorupsi biasanya dikenali dari 64 byte pertama.
Metode ini mengasumsikan bahwa jika 64 byte pertama terlihat baik, maka frame kemungkinan ok. Metode ini lebih cepat dari store-and-forward, dan lebih andal dari cut-trough sehingga menyediakan keseimbangan antara kecepatan dan keandalan. Switch seri Catalyst 1900 mendukung FragmentFree dan juga store-and-forward.
Sumber : http://www.pcmedia.co.id/
Telah kita ketahui bahwa ketika menerima frame dari host, switch akan melihat MAC address tujuan di dalam tabel forwarding untuk menentukan ke mana frame harus diteruskan. Meskipun begitu, cara switch menangani proses forwarding dapat bervariasi. Sebagai contoh, salah satu metode yang digunakan oleh switch Cisco akan mem-buffer seluruh frame, dan kemudian menghitung ulang nilai CRC untuk memastikan frame tidak terkorupsi. Metode lainnya akan langsung mulai meneruskan frame begitu ia mulai memasuki switch, tanpa melihat nilai CRC.
Di sini terlihat jelas bahwa satu metode berfokus pada keandalan, sementara yang lain berfokus pada kecepatan.
Secara keseluruhan, perangkat Cisco mendukung tiga metode switching, yaitu store-and-forward, cut-through, dan FragmentFree. Tidak setiap metode didukung oleh semua model, tetapi Anda harus mengenali cara kerja masing-masing metode.
Store-and-forward
Store-and-forward merupakan metode switching default yang digunakan pada switch Cisco seri Catalyst 1900. Pada waktu metode ini digunakan, switch akan menunggu sampai seluruh frame memasuki switch, meng-copy-nya ke buffer, dan kemudian menghitung nilai CRC frame. Jika nilai CRC yang dihitung oleh switch sama dengan nilai yang tersimpan di dalam frame maka frame tersebut berarti tidak terkorupsi, dan kemudian switch akan meneruskannya ke port tujuan. Jika nilai CRC-nya tidak sama, ini berarti frame terkorupsi, dan akan dihentikan oleh switch.
Store-and-forward merupakan metode yang paling andal, tetapi jelas menambah waktu tunda pada proses komunikasi.
Cut-through
Cut-through merupakan metode switching default pada switch Cisco kelas atas, seperti seri Catalyst 5000. Jika store-and-forward meng-copy seluruh frame ke buffer dan menghitung nilai CRC-nya, maka cut-through akan langsung meneruskan frame begitu 6 byte pertama diterima. Seperti yang telah kita ketahui, 6 byte pertama mengandung MAC address tujuan, dan itu merupakan informasi yang cukup bagi switch untuk meneruskan paket.
Dengan semakin andalnya jaringan (dan perangkat jaringan) saat ini, maka masalah frame yang terkorupsi tidaklah sebesar dulu. Hal ini membuat cut-through layak dipertimbangkan.
FragmentFree
Metode switching ketiga adalah FragmentFree. Jika cut-through meneruskan frame setelah 6 byte pertama diterima, maka FragmentFree akan menunggu sampai 64 byte pertama diterima. Ke-64 byte tersebut dikenal juga dengan “collision window”, karena frame yang terkorupsi biasanya dikenali dari 64 byte pertama.
Metode ini mengasumsikan bahwa jika 64 byte pertama terlihat baik, maka frame kemungkinan ok. Metode ini lebih cepat dari store-and-forward, dan lebih andal dari cut-trough sehingga menyediakan keseimbangan antara kecepatan dan keandalan. Switch seri Catalyst 1900 mendukung FragmentFree dan juga store-and-forward.
Sumber : http://www.pcmedia.co.id/
No comments:
Post a Comment