Contact

09 July 2008

Metode Switching

Metode Switching pada Cisco Switch?
Telah kita ketahui bahwa ketika menerima frame dari host, switch akan melihat MAC address tujuan di dalam tabel forwarding untuk menentukan ke mana frame harus diteruskan. Meskipun begitu, cara switch menangani proses forwarding dapat bervariasi. Sebagai contoh, salah satu metode yang digunakan oleh switch Cisco akan mem-buffer seluruh frame, dan kemudian menghitung ulang nilai CRC untuk memastikan frame tidak terkorupsi. Metode lainnya akan langsung mulai meneruskan frame begitu ia mulai memasuki switch, tanpa melihat nilai CRC.

Di sini terlihat jelas bahwa satu metode berfokus pada keandalan, sementara yang lain berfokus pada kecepatan.

Secara keseluruhan, perangkat Cisco mendukung tiga metode switching, yaitu store-and-forward, cut-through, dan FragmentFree. Tidak setiap metode didukung oleh semua model, tetapi Anda harus mengenali cara kerja masing-masing metode.

Store-and-forward
Store-and-forward merupakan metode switching default yang digunakan pada switch Cisco seri Catalyst 1900. Pada waktu metode ini digunakan, switch akan menunggu sampai seluruh frame memasuki switch, meng-copy-nya ke buffer, dan kemudian menghitung nilai CRC frame. Jika nilai CRC yang dihitung oleh switch sama dengan nilai yang tersimpan di dalam frame maka frame tersebut berarti tidak terkorupsi, dan kemudian switch akan meneruskannya ke port tujuan. Jika nilai CRC-nya tidak sama, ini berarti frame terkorupsi, dan akan dihentikan oleh switch.

Store-and-forward merupakan metode yang paling andal, tetapi jelas menambah waktu tunda pada proses komunikasi.

Cut-through
Cut-through merupakan metode switching default pada switch Cisco kelas atas, seperti seri Catalyst 5000. Jika store-and-forward meng-copy seluruh frame ke buffer dan menghitung nilai CRC-nya, maka cut-through akan langsung meneruskan frame begitu 6 byte pertama diterima. Seperti yang telah kita ketahui, 6 byte pertama mengandung MAC address tujuan, dan itu merupakan informasi yang cukup bagi switch untuk meneruskan paket.

Dengan semakin andalnya jaringan (dan perangkat jaringan) saat ini, maka masalah frame yang terkorupsi tidaklah sebesar dulu. Hal ini membuat cut-through layak dipertimbangkan.

FragmentFree
Metode switching ketiga adalah FragmentFree. Jika cut-through meneruskan frame setelah 6 byte pertama diterima, maka FragmentFree akan menunggu sampai 64 byte pertama diterima. Ke-64 byte tersebut dikenal juga dengan “collision window”, karena frame yang terkorupsi biasanya dikenali dari 64 byte pertama.

Metode ini mengasumsikan bahwa jika 64 byte pertama terlihat baik, maka frame kemungkinan ok. Metode ini lebih cepat dari store-and-forward, dan lebih andal dari cut-trough sehingga menyediakan keseimbangan antara kecepatan dan keandalan. Switch seri Catalyst 1900 mendukung FragmentFree dan juga store-and-forward.


Sumber : http://www.pcmedia.co.id/

02 July 2008

REM

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Ferrari yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.
Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas.
Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Ferrari itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
Cittt…. ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan.
Ferrari yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
“Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.”
Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku.
Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”
Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, diangkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Ferrari kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatanmu.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Ferrari miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”